Home | News | Di Balik Pembuatan Lapan A2, Mulai Sulit Komponen Hingga Alat Uji Terbatas
Author : Font Size :   Normal   |   2X   |   4X   |   8X   |   10X

Jakarta - Membuat satelit di Indonesia bukan perkara yang mudah. Meski kini anak bangsa berhasil membuat, ada kisah panjang pembuatan satelit hingga kini siap diluncurkan.

Satelit mikro pertama yang dibuat ahli di LAPAN yakni Lapan A1/Tubsat. Pembuatan satelit ini dilakukan dengan bekerja sama dengan Universitas Teknik Berlin (Technische Universität Berlin; TU Berlin).

Meski dibuat oleh orang Indonesia, satelit ini menjadi proyek ujicoba dan tak pernah singgah di Indonesia. Setelah selesai dibangun di Jerman, satelit ini langsung dikirim ke India untuk diluncurkan.

Tahun 2009, LAPAN mencoba mebangun satelit Lapan A2/Orari di Indonesia. Dengan berbekal pengalaman membuat satelit saat di Jerman dan tetap mendapat supervisi dari Jerman, membangun satelit ini.

Pembuatan satelit ini membutuhkan waktu 2 tahun. Senior Engineer LAPAN, M Farid Huzain yang juga menjadi anggota tim Lapan A2 mengatakan setelah ditentukan misi, fungsi dari satelit, dan diluncurkan menggunakan apa, maka tim mekaniklah yang akan bekerja untuk mendesain bentuk luar dan penempatan komponen-komponennya.

Setelah desain awal selesai, maka mulailah dirakit satu persatu bagian dari satelit tersebut. Dalam ruangan Assembly, Integration, and Test (AIT) yang tak terlalu besar di kantor LAPAN Rancabungur, Bogor. Ruangan ini diperuntukkan pembangunan satelit dengan berat dibawah 100 kg. Ruangan itu diisi dengan berbagai alat mulai dari layar komputer, crane, ada pula alat seperti setengah bola dunia yang berfungsi mengirimkan warna dan menguji ketajaman kamera serta alat-alat penguji satelit lainnya.

Tantangan selanjutnya yakni banyak komponen dari satelit ini yang tak tersedia di Indonesia. Akibatnya, banyak komponen yang dibeli dari luar negeri sesuai pesanan tim.

"Dukungan industri dalam negeri belum mencakup sehingga industri pendukung tidak ada di Indonesia. Komponen didatangkan dari luar negeri tetapi desainnya kami kerjakan semuanya di sini," tambah Kepala Pustek Lapan Rancabungur, Suhermanto, Kamis (27/8/2015).

Misalnya saja untuk pilot control data handling dibeli dari Jerman, ada juga komponen yang dibeli dari Inggris, Amerika dan beberapa negara produsen komponen lainnya.

Selain pengadaan komponen, kesulitan lain yang dirasakan tim LAPAN yakni pengujian satelit yang juga tak bisa sepenuhnya dilakukan di ruangan LAPAN. Untuk uji getar saja, LAPAN bekerja sama dnegan BPPT. Namun, karena BPPT tak memiliki alat uji untuk satelit, maka LAPAN mengadakan alat uji getar untuk satelit dan dihibahkan pada BPPT. Untuk uji frekuensi, LAPAN bekerjasama dengan LIPI.

Setelah proses panjang selama 2 tahun, akhirnya Lapan A2/Orari dinyatakan siap untuk dibangun 2012. Satelit ini akan menumpang roket milik India. Namun, karena ada penundaan dari pihak India, maka peluncuran baru akan dilaksanakan akhir September mendatang. Kini, tim ahli LAPAN sedang mempersiapkan pengiriman satelit tersebut ke India.

Total Comments ( posted)
ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia

ORARI DAERAH ACEH DS.
Jl Teungku Malem I No 6
Kuta Alam Banda Aceh
Telp. : (021) 938 12 087 - 912 68 257
Fax. : (021) 638 69060
Email : aceh@orari.or.id
Facebook   Twitter   Google Plus   Pinterest   Youtube  
ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Copyright © 2016 ORARI - Organisasi Amatir Radio Indonesia
Seluruh materi dan konten dilindungi oleh hukum atas hak cipta
ORARI Daerah Nangroe Aceh Darussalam
ORARI is a member-society and International Secretariat of the International Amateur Radio Union
Orari Pusat RSS   |   Member Update RSS   |   RSS   |   Atom
To Top